Rabu, 19 November 2014

Karena hidayahNya begitu sulit ku dapatkan....




Ya sangat sulit, tidakkah kamu mengerti? Betapa sulitnya hidayah ini kudapatkan.
Aku yang dibesarkan di lingkungan yang paham benar akan syariat islam. Sejak kecil orang tauku telah menerapkan syariat islam di rumahku. Aku dibiasakan shalat 5 waktu dengan tepat waktu, membaca dan menghafal Alquran, belajar kisah-kisah para nabi, bangun pagi harus jam 5 subuh untuk shalat dan tidak boleh tidur lagi. Iya, semua itu ku lakoni sejak aku mengerti dan mampu berpikir dan berkomunikasi dengan orang tuaku, namun itu semua tak cukup membuatku mendapatkan hidayah lebih cepat dan lebih awal. aku menyesal. sangat menyesal. semoga Allah mengampuniku.

Tahukah kamu, hidayah dariNya baru kurasakan di umurku yang ke 20. Bayangkan 20 tahun aku melakoni perjalanan hidupku tanpa merasakan manisnya hidayah dariNya. Aku benar-benar menjalani rutinitasku pure akibat perintah dan larangan orang tuaku. Orang tuaku telah berusaha semaksimal jungkin memanggil guru ke rumah untuk mengajariku syariat agama islam yang kaffah, otakku menerima bahkan menghafalnya di luar kepala, namun hatiku keras suram bagaikan batu di kawah lumpur. Aku tak pernah menuntut ilmu dengan hatiku, aku tak pernah benar-benar beribadah kepasaNya dengan hatiku.
Begitu malunya diri ini kepadaNya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku saat itu. Aamiin.
Lantas, pantaskah ketika hidayah ini telah melunakkan hatiku, ketika hidayah ini terasa sangat menyejukkan jiwaku, ketika hidayah ini ku dapatkan setelah perjuanganku selama 20 tahun lalu ku buang percuma dan tidak ku pertahankan  sekuat tenaga?

Tidak, tidak akan pernah. Hidayah ini akan ku gigit erat-erat dengan gerahamku agar iya tak pernah lepas. Agar iya tak pergi meninggalkanku. Agar iya tetap selalu berada di hatiju hingga ajal menjemptku kelak. Karena aku sangat paham kondisi hidupku saat tak merasakan hidayah ini, aku sangat paham betapa sia-sianya hidupku tanpa hidayah dariNya.
Maafkan aku ketika kamu merasa ku sia-siakan. TIDAK. aku bukan menyia-nyiakan. Namun aku ingin benar-benar menjalankan syariat-Nya sesuai dengan ilmu yang kupahami. Setidaknya aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama. 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ

YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA WA ‘ALAA THOO'ATHIK.

Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.




icha_izzah 
02.40 AM. Vila Mutiara Makassar.


2 komentar:

  1. keren tampilan baru.ta kak (y) ajarin dong X_X

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasa aja dek. ayo ketemuuuu......rindu eh

      Hapus