Rabu, 26 November 2014

untukmu... hujan....


tik tik tik...
hujan....
splaaassshhhhhh tiba-tiba saja rentetan memori itu melayang-layang di pelupuk mata. oh tidak. kenangan itu, potongan-potongan kisah itu terus saja menyatu di penglihatanku. lagi-lagi kamu berhasil membuka luka lama yang susah payah ku tutupi selama ini. sakit rasanya. tepat dengan kalimat yang lagi nge-trend sekarang "sakitnya TUH DISINI"

tidakkah kamu mengerti hujan? aku selalu menunggumu, namun kamu selalu berhasil mengacaukan hatiku. kamu selalu membawa rasa itu, membuatku tak kuat menahannya hingga aliran deras di pelupuk mataku tak dapat ku bendung. lagi-lagi aku terjebak denganmu. di sudut kota ini. ah betapa malangnya diri ini.

hujan, sebenarnya kamu begitu istimewa. aku terus saja rindu kepadamu. namun bisakah kamu datang tanpa membawa potongan-potongan kisah itu. aku tak kuat menyusun kisah itu lagi, aku tak bisa menyatukan potongan kisah itu dalam nyataku. lalu mengapa kau terus saja memaksaku menyelesaikannya?

aku... aku...

aah aku tak kuat lagi. aku merindukanmu.... hujan..., meski kau selalu menikam-nikam hatiku hingga aku menikmati kesakitan itu.

apalah artinya aku. hanya kau yang selalu istimewa. 



Sendiri. Sepi. 
icha_izzah
Makassar, 26 November 2014
17:35 WITA @bed *refresh otak dulu nulis-nulis galau, capek kerja skripsweeettttttt*


Rabu, 19 November 2014

Karena hidayahNya begitu sulit ku dapatkan....




Ya sangat sulit, tidakkah kamu mengerti? Betapa sulitnya hidayah ini kudapatkan.
Aku yang dibesarkan di lingkungan yang paham benar akan syariat islam. Sejak kecil orang tauku telah menerapkan syariat islam di rumahku. Aku dibiasakan shalat 5 waktu dengan tepat waktu, membaca dan menghafal Alquran, belajar kisah-kisah para nabi, bangun pagi harus jam 5 subuh untuk shalat dan tidak boleh tidur lagi. Iya, semua itu ku lakoni sejak aku mengerti dan mampu berpikir dan berkomunikasi dengan orang tuaku, namun itu semua tak cukup membuatku mendapatkan hidayah lebih cepat dan lebih awal. aku menyesal. sangat menyesal. semoga Allah mengampuniku.

Tahukah kamu, hidayah dariNya baru kurasakan di umurku yang ke 20. Bayangkan 20 tahun aku melakoni perjalanan hidupku tanpa merasakan manisnya hidayah dariNya. Aku benar-benar menjalani rutinitasku pure akibat perintah dan larangan orang tuaku. Orang tuaku telah berusaha semaksimal jungkin memanggil guru ke rumah untuk mengajariku syariat agama islam yang kaffah, otakku menerima bahkan menghafalnya di luar kepala, namun hatiku keras suram bagaikan batu di kawah lumpur. Aku tak pernah menuntut ilmu dengan hatiku, aku tak pernah benar-benar beribadah kepasaNya dengan hatiku.